“IF IT IS NOT OKAY, IT'S NOT THE END"
Tapi gue setuju
banget kok sama perkataan ‘setiap orang punya timeline-nya masing-masing’ jadi
gue sah-sah aja menganggap too young to
get the end, xixi. Mau berapapun temen sebaya gue yang saat ini sudah
menikah, sudah lulus kuliah, sudah punya asset,
sudah kemana-mana dan banyak sudah-sudah yang diraihnya IT’S REALLY OKAYYYY bcs they have their own timeline! And it’s
not my fuwkingg business.
Mungkin yang agak
menyeramkan bukan mereka-mereka yang merupakan temen akrab maupun ga akrab sama
gue sih yang mendapatkan ‘sudah-sudah’ itu, melainkan my exes???? HAHAHA exactly. Mantan-mantan pacar atau gebetan gue
yang mendapatkan ‘the end’ kayaknya yang agak membuat gue—kapan ya? Kenapa dia
duluan? Padahal kan---? Huft WHY?
Apalagi dengan track-record kisah percintaan gue yang
aduh—disakitin molo. Diselingkuhin, dijadiin pelampiasan, tempat parkiran
bahkan J
kok ya, kok ga happy ending duluan?
Yah begitulah..
kadang kedengkian hati dan kenaifan serta ketidak sabaran jiwa gue suka asal
mikir dan berkata seperti itu. Karena harusnya
kan—harusnya—dan harusnya menurut pilem-pilem
romance barat yang disakitin yang
akhirnya bahagia, yang nyakitin akan berteman dengan penyesalan. Tapi kok
nyatanya enggak ya? Mereka yang tukang nyakitin malah menunjukan kehidupan yang
fine-fine aja. Nothing to lose. Dengan mudahnya dapet gebetan baru. Dengan
gampangnya balikan sama mantannya yang mereka boongin mulu itu. LOL.
Sedangkan diri ini
berasa stagnan. Masih dapet pattern yang sama lagi. Alias masiiiiih
aja masih kudu ngobatin hati karena ga ada sudah-sudahnya dapet lakik yang
salah. Fiuh. Padahal gue udah
berusaha buka hati, mencoba gak ‘trust
issue’, tetep jadi perempuan yang independent
J perhatian, gak
pernah kepikiran mo morotin, yang aaaaah--- elah pokmen—gue udah berusaha jadi girlfriend-material TAPI TETEP AJA
DISAKITIN. My goodnessssssss. Sebenernya udah berusaha banget gak mau punya
mentalitas korban begini L
tapi gimana dund, gue di kertas ini
kudu berekspresi jujur, kan.
HUUUUUFT. Tiga kali
puasa dari tahun 2020 sampe tahun 2022 gue selaluuuu aja berkutat dengan issue
ini. Jomblo lagi. Disakitin lagi. Ngerasa menyedihkan lagi. Tapi di lain sisi
gue juga seneng sik, gue jadi punya banyak waktu buat refleksi diri kek gini.
Hahaha. Always feel blessed pokmen.
Tapi mau gimanapun,
gue tetep percaya kok sama Tuhan semesta alam. Otak waras gue berpikir kenapa
gue masih berkutat dengan belenggu ini adalah—karena—hati yang tidak ikhlas.
Yup! Gue harusnya beruntung punya privilege
pemikiran yang entah positif atau naïf ini :D
Karena
emang nyatanya dengan ketidak ikhlasan gue ini, gue masiiiiih aja ‘ngurusin’
mereka-mereka yang sudah menyakiti diri gue. Coba aja gue gak ngurusin, gue
juga ga akan sotoy dengan timeline hidup mereka—dan gak berujung soft competition a.k.a beradu nasib!
Yuk
Els, coba jangan hanya let it go, ke next level-nya yuk, yaitu LET IT BE! J
Biarkan
mereka ‘bekerja’ di timeline-nya
mereka sendiri tanpa kamu tahu menahu. And
ofkors—you do it for yourself too.
Gak usah sengaja biar mereka tahu apa-apa yang sudah menjadi progress kamu.
Inget ya Elsa sayang, kutipan judul curhatan kamu ini, if
it is not okay, it's not the end.

Comments
Post a Comment