The Uncredible Writer
Uncredible...
Gue bakal namain blog gue dengan kata ‘uncredible’ yang maksudnya adalah
tidak kredibel. Karena ketika gue terfikirkan untuk mulai menulis di blog,
pemikiran yang selalu muncul tentang hal itu adalah, ‘Plis deh, lo tuh gak
kredibel, lo siapa sih? Mo ngapain?’ Huft, basic me. But
I was surprised, ketika gue ketik ‘uncredible’ malah yang muncul kata
‘incredible’. Dan maknanya sangat keterbalikan! Dan hal itu yang akhirnya bikin
gue deg-degan dan buat gue ngerasa ‘Kenapa enggak?!’ Sooo, here it is!
My first blog will be published.
Picture from Pinterest
Perkenalkan, gue Elsa. Saat ini masih menyandang status mahasiswi sekaligus
karyawan swasta. Hobi gue ngayal. Hari sempurna versi gue adalah bisa bangun
subuh tepat waktu dan menutup hari dengan jalan-jalan sore. Gue suka banget
sama yang namaya diksi. Makanya, buat gue tersanjung itu gampang banget
sebenernya. Tapi jangan salah-salah, gue bisa ngerasain mana
diksi yang dibuat-buat alias gak tulus dan diksi yang memang ke luar karena
seluruh jiwa ‘merasakannya’. Jiakh, mulai deh, cheesy me.
Gue rasa, gue suka nulis sejak dahulu kala banget, waktu SD.
Jaman-jaman diary adalah benda penting yang hampir dimiliki
temen-temen sejawat gue. Sampe akhirnya modernisasi berdatangan, media sosial
jadi teman sekawan, dan diary terlupakan. Gue pun hampir
mememusnahkan kebiasaan gue curhat dan nulis di buku itu. But lucky me,
the old me comeback!
Setelah galau dari patah hati yang sangat keren itu-- iya gak salah
baca, gue keren banget pas sakit hati wkwkwkwk-- gue menemukan cara yang
paling jitu buat curhat, yaitu curhat ke diri sendiri di masa yang akan datang
dengan media tulisan. Karena saat gue ngalamin patah hati yang keren
itu, gue bosen banget curhat ke temen-temen tercinta gue. I know,
they love me too, makanya gue sampe hafal kalimat pamungkas dari mereka
yang gue cintai itu, kira-kira kalimatnya gini, “You deserve someone
better, Els” nggg- gak semua pake English, sih. Mereka mengutarakan
makna dari kalimat di atas dengan bahasa dan cara mereka sendiri, tapi, ya,
intinya gitu.
Terus gue mikir dong, mungkin gue emang pantes kok dapet yang lebih baik. T-t-tapi yang lebih baik kayak gimana deh? Ha ha ha ha. Poor me. Gue aja gak tau yang lebih baik versi diri gue itu kayak gimana. Dan akhirnya gue sadar, ternyata selama ini gue punya PR yang sangat besar. What is it? Mendengarkan diri sendiri! Gue lalai dalam mendengarkan selama ini. Dan menrut gue, cara yang paling jitu untuk mendengarkan, pertama, dengan membuat tulisan.
Selanjutnya, gue bakal coba untuk lebih perhatian. Terhadap apa yang gue tulis, terhadap apa yang gue pikirkan ketika menulis, dan apa yang akan gue lakukan setelah menulis. Hopefully, dengan rajin nulis bakal bikin gue otomatis rajin mendengarkan diri gue sendiri juga.
Love love, Elsa.
Comments
Post a Comment